audit energi

Hemat energi sepertinya sudah menjadi gaya hidup masyarakat belakangan ini. Hal ini tentunya sangat berdampak positif dan perlu digalakkan ke lingkup yang lebih luas lagi, tidak hanya dalam lingkup rumah tangga saja. Melihat semakin maraknya pembangunan gedung-gedung tinggi di kota-kota besar, bukan tidak mungkin jika gaya hidup ini dapat ditularkan kepada pemilik gedung-gedung pencakar langit tersebut. Salah satu cara penghematan energi yang bisa dilakukan di gedung-gedung perkantoran adalah dengan cara melakukan audit energi. Audit energi  merupakan prosedur sistematik yang dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi konsumsi energi suatu bangunan, serta mengidentifikasi jika ada kemungkinan penghematan energi yang bisa dilakukan oleh pemilik bangunan tersebut. Audit energi yang dilakukan pada gedung-gedung perkantoran memang sangat berguna, namun tidak bisa disangkal jika proses mengaudit ini membutuhkan kerja keras yang sangat intensif. Para auditor energi harus mengelilingi gedung-gedung perkantoran tersebut untuk menganalisa konsumsi energi dan bahkan mencatatnya secara manual. Apalagi kebanyakan gedung perkantoran biasanya disewakan kepada penyewa yang berbeda-beda dan pastinya mereka menggunakan sistem pendingin atau pencahayaan yang berbeda juga. Oleh sebab itu, data yang harus dicatat dalam melakukan audit energi ini cukup banyak dan beragam, tapi jika data-data tersebut dapat terlengkapi dengan baik, auditor energi akan mampu memberikan rencana manajemen energi yang paling maksimal yang bisa Anda gunakan.

Data-data dalam melakukan audit energi

Data-data yang dikumpulkan selama melakukan audit energi di gedung perkantoran haruslah mampu menggambarkan kebutuhan energi dan konsumsi energi gedung tersebut. Jadi sangatlah penting jika para auditor energi, paling tidak, memiliki data yang menginformasikan tentang:

  1. Lokasi gedung dan lingkungan sekitarnya;
  2. Luasnya area gedung;
  3. Penggunaan alat-alat elektronik;
  4. Jenis pendingin ruangan dan cara pengoperasiannya;
  5. Jenis dan jumlah lampu yang digunakan sebagai penerangan serta cara pengoperasiannya;
  6. Material yang digunakan pada dinding, langit-langit, jendela, dan lantai;
  7. Sistem penghematan energi yang sudah pernah dilakukan oleh gedung tersebut;
  8. Tagihan biaya listrik mulai dari 3 tahun yang lalu sampai waktu dilakukannya audit energi; dan
  9. Cetak biru gedung tersebut.

Data-data di atas sangat diperlukan untuk membentuk profil energi konsumsi dari gedung tersebut. Auditor energi profesional mutlak diperlukan untuk menganalisis data-data tersebut dan tentunya Anda harus menyiapkan dana untuk melakukan prosedur panjang tersebut.

Jelas sudah, penghematan energi di suatu gedung perkantoran bukanlah hal yang tidak mungkin dilakukan. Dengan catatan, Anda harus berkontribusi aktif dalam mengumpulkan data-data penting yang diperlukan selama audit energi untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Walaupun prosesnya sangat memakan waktu, profil konsumsi energi yang akurat akan otomatis menghasilkan rencana manajemen energi yang sangat efisien dalam mengurangi konsumsi energi, meminimalisir emisi karbondioksida dari gedung tersebut, serta melindungi lingkungan sekitar.